Langsung ke konten utama

Tentang Merdeka

Sudahkah Kita Merdeka ?

Sudah tidak asing lagi dengan kata 'Merdeka' diseluruh pelosok negeri, pelosok dunia sudah sangat kental dengan namanya 'merdeka'. Tepat 2 hari sudah kita merayakan kemerdekaan , mengulang tahun kebebasannya negeri ini dari  keterjajahan bangsa penjajah dahulu. Dibumbui dengan kemeriahan, tak lupa kontribusi dari setiap para pemuda. Lantas dengan kata Merdeka, apakah sudah benar benar merdeka? Apakah diri kita sudah merdeka? Apakah diri kita sudah merdeka dari rasa keterjajahan hawa nafsu?


Sering kali merdeka hanya sampai pada ucapan semata, namun tidak sesinkron dengan hati. Seringkali juga banyak korupsi, korupsi uang maupun korupsi waktu yang telah Allah beri. Selalu merasa kurang, dan tidak pandai bersyukur


Menurut kacama Islam, merdeka adalah terbebas dari segala penghambatan dan hanya totalitas kepada Allah swt. Sebagaimana Islam datang untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penghambatan, memberantas kedzaliman serta menegakkan keadilan. 

Dari penjelasan kata merdeka, sudah jelas bahwa arti merdeka sesungguhnya adalah "bebas" yang dimana bebas sendiri merupakan bebas dari rasa keterjajahan. 

Seperti negara,  negara tanpa isi yang tidak berkualitas tidak akan sampai pada kata merdeka. Begitu pula pada diri kita, dirikita tidak sampai pada merdeka jika berterus terus,  melakukan hal hal yang sia sia. Contohnya seperti, lebih tertarik untuk menscroll tiktok, instagram ketika panggilan Allah datang, malah melalaikannya. Astaghfirullahal’adzim

Lantas sekali lagi, sudahkah kita merdeka. Coba lihat pada diri sendiri, tanpa menjudge orang lain. Sudahkah kita memerdekakan  diri, dari perkara duniawi? Sudahkah kita memerdekakan diri  dalam memerangi hawa nafsu? Dan Sudahkah kita memerdekakan diri hanya dengan menghamba kepada sang illahi? 

Sejatinya, kita hanya manusia perasa, manusia peraba yang menetap dibuminya untuk memaksimalkan nikmat dan rasa tanggung jawab menjalankan kewajibannya dengan sebaik baiknya. Ingat kita ini makhluk yang diberi amanah untuk taat dan patuh menjalankan segala taqwanya, dan kita juga milenial muslim yang  seharusnya  keadaan hari ini memperkuat keimanan dan mempertebal keimanan.

Belajar dari kisah sukses Nabi Ibrahim AS, Musa AS, dan Muhammad SAW serta  nabi dan rasul lainnya yang membawa misi tauhid sampai pada merdeka,  memerdekakan dan membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan atas manusia lainnya.

Ini adalah janji Allah “barang siapa yang berbuat baik sebiji zarah maka dia akan melihat balasannya, barang siapa yang berbuat keburukan sebiji zarah maka dia akan melihat balasannya” (al-Zalzalah [90]: 7-8).
Jika tiket untuk ikut berkontribusi dalam kemerdekaan saja kau bisa lakukan. Maka, tiket untuk mencapai syurga juga kau bisa dapatkan, mengapa tidak? 

Wallahua'lam bishawab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERIHAL TANYA DAN KEMBALI

Untuk perihal kata rumor,  terdapat dua jawaban antara benar dan salah atau iya dan tidak . Diantara pilihan dua itu, apa yang ia ingin tahu dapat ku katakan iya dalam sudut pandangku dengan beberapa konteks misalnya. Namun, tidak dalam sudut pandangnya (entah dalam konteks apa). Rumor kan, hal yang belum benar dan harus dipastikan.   " Rumor yang dulu itu benar, Sen?" Aku menoleh pada sumber suara yang membuyarkan lamunanku, ia sedang merapihkan jam tangan silver di sebelah tangan kirinya dengan menggendong setengah tas ransel dipundaknya. Arah pandangnya bukan padaku, tapi pada jam tangan yang sedang ia benarkan itu dengan tunduk tidak tegak. Namun, tidak terlalu tunduk. Untuk kedatangannya, aku tidak tahu pasti. Yang lebih pasti, ia sudah ada di sampingku sejak aku sedang menunggu angkutan untuk pulang. Lalu lalang kendaraan tidak berhenti menyapu jalanan pada sore kali ini. Langit yang sedikit sendu namun tidak terlalu mendung. Halte  Bus yang sudah dipenu...

Mungkin ini hanya sepintas.

Singkat Rindu yang bersuara pada aksara  Bungkam pada tanya kala malam Padamu, ku semoga kan selalu aman  Tetap terjaga dari riuhnya angin malam yang menyapa. Terima kasih untuk kemarin. ___  "Mau berbicara tentang apa lagi?"Tanyanya waktu itu dia bilang gitu. Malam malam yang ku rasa itu bukan menjadi pertanyaan akhir dalam obrolan kami. "Lanjut besok, sudah malam" Seharusnya berlanjut. Namun, ini kalimat akhir yang belum diselesaikan kelanjutannya. Dan ini penghujung Januari. Setelah seminggu berlalu, semuanya kembali ke awal. Aku pada duniaku dan dirinya pada dunianya. Tak ada lagi kabar yang selalu muncul dalam notifikasi di handphone. Bahkan, kami seperti dua orang asing yang tidak pernah saling kenal. 'Setelah ini, Kami melanjutkan perjalanan pada dua jalur tak searah' Kamu ada dalam ceritaku. - 29 Januari 2024