Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2024

Pilihan

  Sebuah 'Pilihan' untuk Diri  "Jadi, pilihanmu apa?"Suara dari arah samping tempatku kini. Jaraknya hanya 5 cm dari tempat dudukku. Mengagetkanku saja, gumamku.  "Pilihan?"Tanyaku balik, meminta kejelasan apa maksud dia berbicara seperti itu.  "Hm... kamu punya pilihan kan?mau ikut dengan pilihanmu atau pilihan yang tidak kamu mau? pilihan Tuhan maksudnya, tapi lewat perantara orang tuamu mungkin?" Kini pertanyaannnya lantang diucapkan, matanya menatap ke arah tempat dudukku, menunggu jawaban. dengan berat, mungkin jawabannya "masih rumpang", ku jawab lagi "buntu, mungkin nanti temunya"  "Kapan?"tanyanya lagi, penasaran. Dengan helaan nafas, langsung ku jawab  "Selama takdir berkata iya"tambah lagi "dan Diri menerima"ucapku jelas, membuat ia manggut- manggut. Namun, kelihatannya masih ada yang menjanggal.  "Meskipun bukan itu yang kamu mau?"aku tersenyum miris, pertanyaannnya seakan tau a...

Tujuh Belas

Di Tahun ke Tujuh Belas  Katanya, kisah kita abadi untuk selama-lamanya - Tulus - sang musisi yang mengekspresikan aksaranya dalam sapaan baris lagu. Menggema dalam inci - inci ruangan yang dipenuhi manusia bumi. Katanya tujuh belas tahun itu usia yang dinanti - nantikan. Sweet seventeen orang - orang menyebutnya seperti itu.  Balon warna - warni menghiasi dinding - dinding rumahnya., lilin penuh api di atas kue perayaannya, sorak sorai manusia bumi yang ikut merayakannya. Jangan dilewatkan, katanya. "Biru, kamu kapan ?"ucap Aron, tangannya berusaha menyenggol tangan kanan Biru. "Cukup do'akan saja" Biru tersenyum pada Aron yang saat ini berbincang dengannya. "Kenapa? Bukankah harus diabadikan?"Tangannya mengambil  satu kue di meja kaca bunder. Aron menikmaati santapan kuenya itu. "Tergantung setiap manusia. Menurutku, cukup berharap pribadi tumbuh, schedule yang tidak hanya wacana dan dapat diisi dengan lebih baik lagi serta komunikasi dan hubung...

Mungkin ini hanya sepintas.

Singkat Rindu yang bersuara pada aksara  Bungkam pada tanya kala malam Padamu, ku semoga kan selalu aman  Tetap terjaga dari riuhnya angin malam yang menyapa. Terima kasih untuk kemarin. ___  "Mau berbicara tentang apa lagi?"Tanyanya waktu itu dia bilang gitu. Malam malam yang ku rasa itu bukan menjadi pertanyaan akhir dalam obrolan kami. "Lanjut besok, sudah malam" Seharusnya berlanjut. Namun, ini kalimat akhir yang belum diselesaikan kelanjutannya. Dan ini penghujung Januari. Setelah seminggu berlalu, semuanya kembali ke awal. Aku pada duniaku dan dirinya pada dunianya. Tak ada lagi kabar yang selalu muncul dalam notifikasi di handphone. Bahkan, kami seperti dua orang asing yang tidak pernah saling kenal. 'Setelah ini, Kami melanjutkan perjalanan pada dua jalur tak searah' Kamu ada dalam ceritaku. - 29 Januari 2024