Sebuah 'Pilihan' untuk Diri "Jadi, pilihanmu apa?"Suara dari arah samping tempatku kini. Jaraknya hanya 5 cm dari tempat dudukku. Mengagetkanku saja, gumamku. "Pilihan?"Tanyaku balik, meminta kejelasan apa maksud dia berbicara seperti itu. "Hm... kamu punya pilihan kan?mau ikut dengan pilihanmu atau pilihan yang tidak kamu mau? pilihan Tuhan maksudnya, tapi lewat perantara orang tuamu mungkin?" Kini pertanyaannnya lantang diucapkan, matanya menatap ke arah tempat dudukku, menunggu jawaban. dengan berat, mungkin jawabannya "masih rumpang", ku jawab lagi "buntu, mungkin nanti temunya" "Kapan?"tanyanya lagi, penasaran. Dengan helaan nafas, langsung ku jawab "Selama takdir berkata iya"tambah lagi "dan Diri menerima"ucapku jelas, membuat ia manggut- manggut. Namun, kelihatannya masih ada yang menjanggal. "Meskipun bukan itu yang kamu mau?"aku tersenyum miris, pertanyaannnya seakan tau a...
“Hanya dengan menulis, aku menjadi tuan bagi diriku sendiri.” (Pramoedya Ananta Toer).