Untuk perihal kata rumor, terdapat dua jawaban antara benar dan salah atau iya dan tidak . Diantara pilihan dua itu, apa yang ia ingin tahu dapat ku katakan iya dalam sudut pandangku dengan beberapa konteks misalnya. Namun, tidak dalam sudut pandangnya (entah dalam konteks apa). Rumor kan, hal yang belum benar dan harus dipastikan.
"Rumor yang dulu itu benar, Sen?"
Aku menoleh pada sumber suara yang membuyarkan lamunanku, ia sedang merapihkan jam tangan silver di sebelah tangan kirinya dengan menggendong setengah tas ransel dipundaknya. Arah pandangnya bukan padaku, tapi pada jam tangan yang sedang ia benarkan itu dengan tunduk tidak tegak. Namun, tidak terlalu tunduk.
Untuk kedatangannya, aku tidak tahu pasti. Yang lebih pasti, ia sudah ada di sampingku sejak aku sedang menunggu angkutan untuk pulang.
Lalu lalang kendaraan tidak berhenti menyapu jalanan pada sore kali ini. Langit yang sedikit sendu namun tidak terlalu mendung. Halte Bus yang sudah dipenuhi orang-orang ini bisa terbilang lebih dari lima belas orang berkumpul untuk menunggu. Mereka menunggu untuk pulang, entah pulang kerja, pulang sekolah ataupun tiba untuk datang ke suatu tempat. Yang pasti, mereka sama sepertiku dipertemukan dengan tujuan untuk sama sama menunggu.
Mengapa aku disini dan bertemu dengan ia lagi?
Seperti sudah rutinitas, aku menunggu angkutan umum entah itu bus kota maupun angkot setelah mata kuliahku selesai karena jarak dari kostanku terbilang cukup jauh hanya dapat di tempuh sekitar dua puluh lima menit dan perihal dia?entah, kedua kalinya kami bertemu ditempat yang sama dengan waktu yang sama. Mungkin karena kami sefakultas? Semesta menuntun kami untuk bertemu.
"Oh, yang mana?"
"Akhir kelas dua belas dulu"
Butuh waktu sepuluh detik untuk ku putar kembali memori dua tahun yang lalu itu. Dahiku mengernyit, netraku meraba-raba akan beberapa kejadian dulu, tapi nyatanya aku tidak ingat dengan itu, bukan amnesia lebih jelasnya aku tidak mau ingat perihal tentang lalu.
"Lupa"Iringan tawa ku jawab agar suasana obrolan kami tidak terlalu canggung.
Ia diam, antara bingung akan bicara apa lagi atau memang diamnya itu jawaban. Tangannya menyenggol bagian bahu tangan kiri ku, alis hitamnya ia angkat satu dan dahinya mengernyit seperti tidak yakin akan jawaban yang aku berikan tadi.
"Benar lupa?"Tanyanya lagi memastikan, kini sorot matanya tertuju padaku, aku menoleh. Netra kami bertemu beberapa saat. Tajam, bola mata yang hitam dan wajah bersihnya menjadi ciri khasnya tersendiri, tidak ada yang berubah.
"Iya"singkat, ku jawab dengan anggukan.
Aku tidak perlu terlalu banyak kejelasan pada obrolan kami ini, karena pada nyatanya dia memang tidak benar-benar ingin tahu. Hanya sekadar penasaran atau basa-basi atau pula ini hanya asumsiku saja.
"Manusia, Sen. Tidak mudah lupa untuk hal yang membawanya istimewa atau menyakitkan. Kalaupun iya lupa, ia berusaha untuk lupa atas dua hal keterpaksaan atau penerimaan"
Aku menghela nafas dalam-dalam. Perkataannya itu dapat dibenarkan juga. Aku tahu arah obrolan ini kemana, hanya saja aku menunda jawaban tepat karena ini bukan waktu yang tepat dan bukan bagian yang aku inginkan. Aku berusaha untuk lupa. Sedangkan ia, berusaha untuk mengulang hal lalu.
"Tadinya kalau memang kamu ingat, aku mau ngomong perihal rumor itu"Lanjutnya, sambil menatap langit sendu.
"Lagian kamu kenapa sih, Nu. Percaya banget denger rumor berseliweran itu. Simpang-siur dan gak pasti. Lebih dari itu, bikin diri sendiri bertanya-tanya"
"Masalahnya, rumor ini bukan satu ataupun dua orang yang bilang. Banyak loh Sen, di telingaku berseliweran. Mengacaukan pikiranku saja. Makanya, aku pastiin tanya ke kamu. Benar kan Sen, rumor itu?"
"Gak tahu"Aku mengedikan bahu atas pertanyaannya itu. Ku dengar helaan nafas berat darinya. Satu kata yang dapat ku gambarkan dia kecewa atas jawabanku tadi.
Antara senang dan gak senang. Senangnya, ia belum tahu akan sebuah jawaban dari sebuah kepastian yang ku berikan. Gak senangnya, aku belum siap jika ia harus tahu akan semuanya. Sampai saat ini, rumor itu masih ku rahasiakan, bukan berarti tidak akan terbongkar. Hanya perihal waktu.
Deru mobil berhenti tepat dihadapan kami, menyela obrolan singkat tadi. Aku segera bergegas untuk masuk agar tidak kehabisan tempat duduk, kebetulan ini bukan angkot jadi semua orang bisa menjadi penumpang dengan tujuan yang berbeda, hanya dengan berkata kiri pengemudi menghentikan laju mobil sampai tujuannya.
Dan untuk pertanyaan tadi, jawabannya tidak tepat. Aku tidak melihat gerak geriknya lagi, yang pasti setelah ia mengatakan itu, sudah tidak ada di tempatnya.
Pada saat yang sama, tinggal satu langkah lagi aku masuk dalam mobil ini. Panggilan dari arah kanan posisiku mengaggalkan langkahku. Aku menoleh, mataku menyipit pada objek suara tadi memperjelas penglihatanku. Aku melihat wajahnya, yang selalu senyum ketika berpapasan, yang selalu ramah ketika aku sapa. Dari arah sana ia dengan senangnya melebarkan senyum ke arahku.
"Nara!"Suara itu.
Dia, kembali.
Komentar
Posting Komentar