Di Tahun ke Tujuh Belas
Katanya, kisah kita abadi untuk selama-lamanya - Tulus - sang musisi yang mengekspresikan aksaranya dalam sapaan baris lagu. Menggema dalam inci - inci ruangan yang dipenuhi manusia bumi. Katanya tujuh belas tahun itu usia yang dinanti - nantikan. Sweet seventeen orang - orang menyebutnya seperti itu.
Balon warna - warni menghiasi dinding - dinding rumahnya., lilin penuh api di atas kue perayaannya, sorak sorai manusia bumi yang ikut merayakannya. Jangan dilewatkan, katanya.
"Biru, kamu kapan ?"ucap Aron, tangannya berusaha menyenggol tangan kanan Biru.
"Cukup do'akan saja" Biru tersenyum pada Aron yang saat ini berbincang dengannya.
"Kenapa? Bukankah harus diabadikan?"Tangannya mengambil satu kue di meja kaca bunder. Aron menikmaati santapan kuenya itu.
"Tergantung setiap manusia. Menurutku, cukup berharap pribadi tumbuh, schedule yang tidak hanya wacana dan dapat diisi dengan lebih baik lagi serta komunikasi dan hubungan yang baik antara pencipta dengan ciptaannya. Karena, jika usia bertambah, maka pribadi harus bertumbuh"
Biru mengambil secangkir teh di hadapan meja kaca bundar dan bergegas meninggalkan tempatnya, perbincangan dengan Aron hanya cukup sampai disitu. Waktu yang tidak pas dan Aron yang bergegas pamit dikarenakan panggilan temannya dari arah selatan tempatnya kini. Perayaan temannya membuat Biru bertemu lagi dengan Aron, setelah beberapa tahun. Tidak terduga dan masih sama.
Perihal usia memang bukan standar matang atau mudanya seseorang. Usia merupakan legalitas atau validasi seseorang terkait hidup yang telah diberikan oleh Tuhan.
Komentar
Posting Komentar