Apakah sebuah penolakan berupa bentuk akhir yang tersirat?apakah sebuah cerita tanpa nama harus usai?apakah untuk memulai perbincangan harus sama sama kalah dengan ego?
Perlu ku tekankan lagi, apakah dengan penolakan semuanya harus usai? Tak ada satu hal permulaan, tak ada interaksi begitupun sebaliknya.Tak ada yang memulai tak ada interaksi.
drrrttttttt.......... dering panggilan telepon dari samping tempat duduk yang aku tempati, hanya suara itu yang memecah keheningan kami selain suara lalu lalang kendaraan.
Kami saat ini sedang menunggu angkutan umum, ku pikir setelah 2 tahun kami tidak bertemu, nyatanya semesta tidak berpihak terhadap do'a yang dulu aku semogakan dan ku pikir semuanya akan berbeda ternyata tetap sama. Ia akan terus diam dan tetap diam terkecuali ada satu hal yang mulai perbincangan ia akan bersuara.
"Iya kenapa?"itu suara dia, bukan padaku. Melainkan pada suara sebrang di teleponnya itu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, aku sudah tidak peduli.
2 jam sudah waktuku sia-sia menunggu angkutan umum. Awan yang sendu, hujan mulai terlihat. Rintik-Rintik membasahi jalanan hitam. Orang-orang berlalu lalang menghampiri tempat yang aku tempati ini-Halte. Mereka berteduh menunggu bumi selesai menangis.
"Kapan hujannya reda?" gumamku yang terdengar oleh diriku sendiri.
"Nanti kalau semesta sudah berkehendak"
itu suara dia, ku pikir dia tidak mendengar monologku tadi, untuk apa dia menjawab itu.
"eh?"Netra kami bertemu, kaget. Dia ternyata melihatku juga.
"Sena ya?"
Ku jawab dengan senyuman saja. Mungkin itu sudah cukup memberikan jawaban. Lagi pula suaranya sudah cukup ku kenali. Siapa lagi yang memanggilku Sena kalau bukan dia.
Tidak perlu bertanya balik dia siapa. Karena aku sudah tau dia siapa. Dia yang ku kenal sejak sekolah dasar, namun dia tidak mengenaliku di cerita lain. Mungkin dia hanya mengenal aku gadis pendiam ketika SD atau mungkin dia hanya mengenal aku sebagai teman SMP dan SMA nya. Tidak kurang dan tidak juga lebih, karena kami hanya sebatas 'teman sekolah'. Hanya aku yang menganggapnya sepihak. Payah memang.
"Mau pulang atau kemana Sen?" Untuk ke sekian kalinya, ia bertanya lagi.
"pulang" Ia manggut-manggut atas jawaban yang ku berikan tadi.
"Kuliah dimana?"
"di dekat sini, kampusnya sih nggak terlalu jauh...susah jelasinnya, kamu dimana?"Aku memberanikan diri untuk bertanya balik kepada dia, semoga dijawab pertanyaanku kali ini.
"sama"
"oh ya?"tanyaku penasaran
"iya, aku fakultas ekonomi"
"aku juga"
"oh ya?ko tidak pernah melihatmu?Kini ia bertanya balik dengan raut wajah yang terlihat penasaran.
"beda kelas mungkin"
"kapan-kapan ketemu ya Sen"
"untuk apa?"
"Merayakan kepulangan setelah 2 tahun"
Mataku tersontak kaget ketika ia mengucapkan kalimat seperti itu. Aku dibuat bingung dengan sikapnya pada pertemuan awal kami ini. Dia terlihat aneh.
"Hujannya udah reda, angkotnya pun sudah datang tuh"tunjuknya pada angkot yang pas menghampiri di depan halte.
"eh..oh iya"
Ranu yang ku kenal dulu jarang ngomong. Lelaki yang berperawakan tinggi, rambut hitam pekat, hidung mancung, dan kulit sawo matang itu penuh teka teki. Bahkan setiap aku bertanya kepada dia, dia tidak pernah menjawab atau menyanggah pertanyaanku itu. Ada apa dengan dia?
"Hati-hati Sena"pesannya mengakhiri perbincangan singkat kali ini. Ketika aku sudah masuk dalam angkot yang hanya ku jawab lambaian tangan saja.
Dan narasi awalku ternyata tidak benar juga. Sebuah penolakan bukan bentuk akhir. Sebuah cerita tanpa nama tidak usai hanya belum selesai. Kami bertemu lagi setelah 2 tahun kelulusan sekolah menengah. Namun, ia tetap sama. Payah dalam topik.
Komentar
Posting Komentar