Langsung ke konten utama

Menapaki Bumi

"Bagaimana rasanya?", Tuh kan, didunia tidak ada yang manis". Segelintir kalimat kalimat diucapkan oleh makhluk bernyawa. Ya, namanya Manusia. Aneh memang jika hidup berterus terus menyalahkan keadaan, menentang zaman, menyerah....


Hidup bukanlah totalitas semata untuk mencari kepopuleran. Hidup juga bukanlah tentang siapa peran, dimana tempat, bagaimana lakonnya.Tapi, hidup ya inilah hidup,  apa tujuannya kita untuk hidup, untuk apa kita hidup, apa persiapannya


Bukankah seorang penulis menuliskan ceritanya dengan pena untuk merealisasikan agar cerita tersebut menjadi nyata agar dibaca? Nah, begitupun dengan kenyataan hidup.


 Hidup sejatinya tentang mengeja  setiap detik, waktu, abad apa yang kita lakukan.  Ingat tentang kisah para tokoh terdahulu, ada Rasulullah kan? Nabi kita loh, nabi semua umat islam, yang dalam hidupnya selalu ditentang oleh kaum kafir Quraisy, tapi beliau apa? Tidak pernah sedikitpun untuk menyerah,  Tidak pernah yang namanya sedikitpun dendam, ya meski manusia memiliki hawa nafsu. Tidak pernah sedikitpun untuk berfikir "bunuh", karena beliau mengaksikan semua amanah dari Allah apa yang sepatutnya didakwahkan kepada umatnya.


Jadi, kita hidup hanya singgah lalu pulang. Simple. Tidak perlu untuk membuang tenaga agar dipandang wahh oleh orang lain, tidak perlu mencari kepopuleran didunia yang hanya fana ini. Biar apa? Bukankah semua gerak gerik yang selama ini dilakukan, akan ada pertanggungjawabannya?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Tips Menumbuhkan Semangat di Masa Muda

  “5 Tips Menumbuhkan Semangat Di Masa Muda” Fitrah manusia sebagai Gharizah Tadayyun, begitu pula pada para pemuda. Pemuda merupakan Khalifatul Ard penerus generasi emas selanjutnya. Pemuda juga merupakan manusia dengan pemikiran lebih kreatif, imajinatif, dan inovasi. Dan pemuda juga merupakan roda penggerak bangsa dalam kehidupan serta petarung hebat yang berani mencoba dan mengambil risiko. Begitu pula pada perannya yang sangat berpengaruh untuk mendakwahkan kebenaran di tengah porak poranda Dunia. Diantara kiat kiat menumbuhkan semangat di masa Muda, diantaranya : 1.   Melakukan Self   Efficacy ( Yakin aja dulu )      Melansir dari ig @psycircle.id Self Eficacy merupakan keyakinan seseorang bahwa ia bisa melakukan suatu tugas atau prilaku dengan hasil yang sesuai diinginkan. Menurut Bandura ( 1994 ) menyatakan bahwa self efficacy akan memengaruhi pilihan prilaku yang dilakukan,   berapa besar usaha yang dikeluarkan, serta ...

Sukses tentang Privilege?

Kata orang, kehidupan yang wahh, membuat seseorang bisa dapatkan apa yang dia mau. Katanya "dia mah gampang masuk sini, orangtuanya punya perekenomian tercukupi, punya banyak uang, apa apa pasti bisa. Gak perlu belajar pun, dengan uang pasti bisa, masa depan pasti terjamin".  Kalimat yang memang hanya fiktif belaka, bukan seluruh tapi sebagian orang mengatakan ini.  Ya, privilege kadang kala menjadi pembanding hidup orang dengan orang lain. Selalu merasa minder atau insecure? Privilege bukan untuk pembanding. Privilege bukanlah latar belakang dalam meraih sesuatu yang memang benar-benar kita inginkan, namun pupus begitu saja. Sejatinya orang dengan privilege dengan orang yang tidak memiliki privilege, itu 'sama saja'.  Yang mendasari kita untuk mencapai sebuah progres sampai pada tujuan ya diri kita. Privilege hanya untuk sebatas  peluang.   Setiap orang memiliki hak untuk memposisikan dirinya seperti apa, jadi apa, dan menempuh pendidikannya dimana darimanapun ...

PERIHAL TANYA DAN KEMBALI

Untuk perihal kata rumor,  terdapat dua jawaban antara benar dan salah atau iya dan tidak . Diantara pilihan dua itu, apa yang ia ingin tahu dapat ku katakan iya dalam sudut pandangku dengan beberapa konteks misalnya. Namun, tidak dalam sudut pandangnya (entah dalam konteks apa). Rumor kan, hal yang belum benar dan harus dipastikan.   " Rumor yang dulu itu benar, Sen?" Aku menoleh pada sumber suara yang membuyarkan lamunanku, ia sedang merapihkan jam tangan silver di sebelah tangan kirinya dengan menggendong setengah tas ransel dipundaknya. Arah pandangnya bukan padaku, tapi pada jam tangan yang sedang ia benarkan itu dengan tunduk tidak tegak. Namun, tidak terlalu tunduk. Untuk kedatangannya, aku tidak tahu pasti. Yang lebih pasti, ia sudah ada di sampingku sejak aku sedang menunggu angkutan untuk pulang. Lalu lalang kendaraan tidak berhenti menyapu jalanan pada sore kali ini. Langit yang sedikit sendu namun tidak terlalu mendung. Halte  Bus yang sudah dipenu...