WARNA KEHIDUPAN
By : Dini Aulia Rahmadiani
Sesuatu yang tidak benar-benar pasti memang sangat mengecewakan. Berharap ataupun mengharap pada sesuatu yang masih kemungkinan memang sangat membingungkan. Apalagi jika selama ini apa yang kamu ekspektasikan tidak sesuai dengan realitanya.
Tetapi banyak juga orang yang mengimplementasikan harapan mereka pada orang yang masih status gantung. Banyak yang mengatakan “Aku yakin, aku bisa banggain semua orang”. Memang lucu bukan? Sebagian insan dimuka bumi ini memilih untuk mengiyakan perkataan dari orang lain. Padahal belum tentu juga dengan kemampuannya. Menurutnya “mewujudkan” apa yang orang inginkan mungkin sudah menjadi parameter standar hidupnya. Padahal bukan haknya.
Bagaimana mungkin jika orang-orang yang dulu mereka banggakan, yang mereka puja puja, yang mereka sebut pantutan, yang mereka agung agungkan untuk menjadi buah bibir setiap obrolan. Malah sebaliknya, berbuat seolah tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan.
Sepoi-sepoi angin pagi ini terasa begitu menenangkan. Bahkan pohon sekolah pun ikut bergoyang seperti merasakan enaknya udara angin di Pagi hari ini. Ketika aku sedang sedang asyiknya bernyanyi layaknya burung yang berkicauan sebari berjalan di Lorong Sekolah menuju kelasku, tidak sengaja aku melihat seseorang yang sedang duduk di Taman Belakang Sekolah sebari murung
“Kamu kenapa?”tanyaku
“Aku tidak apa-apa”Jawabnya dengan dingin seolah sedang baik-baik saja
“Jangan berbohong!” Ucapku sekali lagi dengan lantangnya
“Kau tidak perlu tahu, ini bukan urusanmu!” Tegasnya. Lalu dia pergi dari hadapanku.
“Cih, sinis sekali. Apa salahnya juga sih” Kataku dengan wajah kesal
Sesampainya setelah itu, aku segera bergegas menuju kelasku. Oh ya, kelasku berada di Lantai 2 lebih tepatnya dekat mushola, kelasnya sih cukup minimalist dengan gaya temboknya sedikit aesthetic, rapih, dan bersih dan terlihat kesannya cukup menarik serta terdapat juga tanaman hidroponik yang digantung sehingga terlihat sejuk. Jangan ditanya lagi dengan namaku yang cukup famous dengan gelar sedikit “kepo dan pedulinya memeberi wejangan” dengan nama Alana Salsabila. Aku yang sedang menempuh pendidikan SMA Kelas 12 yang berarti segera lulus.
“Ana tugas mtk kemarin sudah?” Tanya temanku yang bernama Sinta.
(Sial sekali, dia merusak mood pagiku)
“Ana!!!”Ucapnya sekali lagi
“Oh sudah, kenapa memangnya?”Tanyaku balik
“Boleh lihat jawabanmu? Aku belum mengerjakan. Please”Jawabnya dengan wajah memelas sambil menangkupkan tangannya di depan dada
“Ambil saja, bukuku ada dimeja” Ucapku tanpa basa basi. Tidak lama kemudian, segerombolan temanku ini langsung menyerbu jawaban mtk ku seperti ikan yang diberi makan oleh majikannya. Mungkin sudah tradisi juga, menyontek disetiap sekolah.
Langsung saja aku keluar kelas. Untungnya bel sudah berbunyi dan jam sudah menunjukkan pukul 09.00 yang menandakan waktunya istirahat. Aku langsung menghampiri meja kantin dan langsung memesan makanan. Namun tidak sengaja, aku melihat seseorang yang tadi pagi ku temui. Aku segera membuntutinya, berharap tidak kehilangan jejaknya.
“Kau sedang apa?”Tanyanya padaku.
(Sialan dia melihatku)
“Oh, aku sedang jalan menyusuri dinding” Gerutuku. Bodoh sekali jawabanmu Alana
“Bukankah dirimu yang tadi pagi?”Tanyanya padaku
“Iya, namaku Alana Salsabila. Kau boleh panggil aku Ana, Salsa, Alana. Terserahmu, yang penting tidak aneh-aneh. Oh ya, namamu siapa?” Tanyaku balik
“Namaku, Rangga Wijaya, kau boleh panggil aku Rangga. Oh ya, boleh aku panggil Al?”Ucapnya
“Boleh. By The way, mengapa kamu selalu datang ke taman belakang sekolah?” Tanyaku sedikit kepo
“Boleh aku cerita?” Tanyanya padaku
Langsung saja dengan senang hati aku jawab “Boleh”
“Sebenarnya taman ini tempat aku untuk meluapkan segala beban. Waktu itu, 2 tahun yang lalu. Keluargaku sangat harmonis. Namun ternyata semua kehidupanku berubah seperti kapal pecah. Ayahku yang mereka bangga banggakan terjerat kasus korupsi dan ditangkap polisi. Semua orang tahu, bahkan teman yang aku anggap sahabat ternyata mereka palsu. Mereka hanya memandang dari segi materi bahkan ketika diriku meminta tolong pun, tidak ada seorang pun yang mau suka rela menyumbangkan tenanganya. Disisi lain, ibuku sakit-sakitan setelah ayah ditangkap polisi. Selama itu, aku kerja banting tulang disebuah kedai kopi. Namun tidak kusangka…..” Ucapnya menjeda menahan tangisnya
“Tidak ku sangka kenapa?” Tanyaku padanya. Aku pun tidak menyangka ada laki-laki yang sangat terpuruk menanggung bebannya sendiri. Pantas saja akhir- akhir ini aku lihat dia seperti murung, biasanya sekolah selalu melibatkan dia dalam setiap perlombaan. (Waktu itu aku hanya kenal wajah namun tidak dengan nama)
“Tidak ku sangka, pemilik kedai kopi hanya memperkerjakan karyawannya sebagai budak, hanya memanfaatkan. Bahkan gaji pun tidak seberapa. Dan akhirnya diriku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan itu, dan memilih mencari pekerjaan lain. Tapi sayangnya, nyawa ibuku tidak tertolong karena kehabisan obat. Sampai akhirnya diriku memilih sendiri menjauhi kerumunan. Tapi setelahnya, aku berusaha untuk jadi pribadi yang lebih baik. Aku banyak mengikuti perlombaan sekolah. Tapi nyatanya hasil tidak berpihak kepadaku. Sampai orang-orang menuntutku untuk bisa seperti yang mereka inginkan. Namun waktu itu diriku lelah dengan keadaan sampai mereka mengusirku”Ucapnya dengan panjang lebar. Tidak terasa, air mataku pun turun membasahi pipiku
“Menangislah Ga, jika semua bebanmu sedikit reda.
Menangis, menangis!” Ucapku sebari menahan tangis
“Hidup memang seperti ini Ga, penuh dengan misteri.
Kadang apa yang pernah kita sangka malah menjadi kenyataan, begitupun sebaliknya. Kamu akan ditemukan oleh orang-orang yang merupakan perantara tuhan untuk mengujimu. Tidak perlu juga kamu buktikan kepada semua orang untuk jadi seseorang yang luar biasa. Itu hanya akan merusak mentalmu. Kamu juga manusia biasa bukan hakmu untuk membahagiakan semua orang. Kamu juga boleh untuk bersikap egois. Karena hidup kita tidak ditentukan oleh orang lain tapi diri kita sendiri.” Ucapku sekali lagi
“Terima kasih telah menjadi teman ceritaku. Apa boleh kita berteman? Sebagai ucapan tanda terimakasih” Tanyanya kepadaku sebari mengusap air matanya dengan perasaan sedikit lega.
“Tentu boleh” Jawabku dengan senang
“Menjadi orang yang bisa memberikan warna kepada orang lain memang sebuah pilihan. Tapi Pilihan inilah yang membuat kita untuk terus belajar dari pengalamannya” Batinku dalam hatiLalu, aku pun dan Rangga segera meninggalkan taman ini.
Komentar
Posting Komentar