Langsung ke konten utama

Cerpen Tema Sosial "Jalan Pulang"

Jalan Pulang

Karya : Dini Aulia Rahmadiani 

            Tidak ada yang mustahil bagi semesta bukan? Kehilangan orang yang benar benar kita sayangi telah pergi menemukan jalannya untuk selamanya. Meninggalkan Jejak kenangan bagi setiap Insan dekatnya.


     Adzan maghrib berkumandang dengan indahnya melantunkan lafadz suci sampai terdengar menembus euforia rumahku kebetulan jarak rumahku ke masjid lumayang dekat. Terdengar Nada dering berbunyi dari handphone ku ternyata sebuah pesan masuk dari Aplikasi WhatsApp


"Sampaikan ke Nenek dan Saudara di Cirebon, minta do'anya supaya mamah cepat sembuh" Pungkasnya pada sebuah pesan yang dikirimkan oleh bibiku ketika aku sedang main WIFI dirumahku

"Iya bi" Balasku pada pesan tersebut

          

          Setelahnya, aku beranjak dari kursi untuk mengambil makanan dan menyetel televisi. Kebetulan  aku sedang tidak melaksanakan sholat dan ibuku pergi ke Masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah di Masjid. Ya sudah, aku berfikir untuk menyampaikan pesan tadi menunggu ibuku pulang dari masjid.


"Bu tadi ada pesan dari Keluarga Jogja. Tolong mohon do'anya supaya mamah cepat sembuh" Ucapku sebari menampilkan layar Pesan di Handphone tadi


"Kasihan sekali" Ucap ibuku setelah membaca pesan tadi yang baru saja datang dari Masjid


"Memang sakit apa?" Tanyaku penasaran


Rasanya kesal pertanyaanku tidak kunjung dijawab oleh ibuku. Langsung saja, aku pergi ke kamarku. Tidak lama kemudian, Pukul 19.30 WIB bibiku menjelaskan kronologinya 


        Keesokan harinya, Tepat pukul 05.00 WIB ada suara ketukan Pintu. Ibuku langsung membukakan pintu


"Mak, Teh Nita meninggal" Ucap bibiku menahan tangisnya yang langsung datang menghampiri Nenekku yang sedang tilawah pagi menggunakan mukena


"Astaghfirullah...Innalillahi" ekspresiku kaget ketika aku baru bangun dari kasur mendengar penuturan bibiku.

Tanpa fikir panjang aku langsung menghampiri kamar nenekku


"Hiks....hiksss....hiksss" 

Suara nenekku yang menangis membuatku kaget. Seumur hidup aku melihat nenekku menangis sejadi-jadinya biasanya tidak


"Sabar Mak. Manusia sudah pasti menemui ajalnya" Ucap Ibuku dan bibiku menenangkan nenekku yang sebari menangis


Dan malamnya, dirumahku mengadakan pengajian/tahlilan untuk mendo'akan almarhumah.


           Tidak ada yang tahu perihal jalan hidup seseorang. Kita hanya tokoh di dalam drama alam dengan menjalankan segala penokohan di dalam diri kita. Ketika lahir, menjadi bayi, bertumbuh remaja dan dewasa hingga Menua. Kita telah melewati fase metamorfosis hidup ini. Tidak ada yang tahu perihal umur  yang kita miliki sekarang ini. Memang benar kematian itu misteri. Tidak pandang sakit ataupun sembuh, tidak pandang tua ataupun muda. Hanya menunggu waktu saja. Aku berucap pada diriku sendiri "Ternyata memang benar kiamat sugra itu, kemarin teman ibu ku meninggal, sekarang salah satu dikeuarga nenekku ada yang meninggal. Lalu, apa aku sudah siap jika kematian mengahmpiriku?"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5 Tips Menumbuhkan Semangat di Masa Muda

  “5 Tips Menumbuhkan Semangat Di Masa Muda” Fitrah manusia sebagai Gharizah Tadayyun, begitu pula pada para pemuda. Pemuda merupakan Khalifatul Ard penerus generasi emas selanjutnya. Pemuda juga merupakan manusia dengan pemikiran lebih kreatif, imajinatif, dan inovasi. Dan pemuda juga merupakan roda penggerak bangsa dalam kehidupan serta petarung hebat yang berani mencoba dan mengambil risiko. Begitu pula pada perannya yang sangat berpengaruh untuk mendakwahkan kebenaran di tengah porak poranda Dunia. Diantara kiat kiat menumbuhkan semangat di masa Muda, diantaranya : 1.   Melakukan Self   Efficacy ( Yakin aja dulu )      Melansir dari ig @psycircle.id Self Eficacy merupakan keyakinan seseorang bahwa ia bisa melakukan suatu tugas atau prilaku dengan hasil yang sesuai diinginkan. Menurut Bandura ( 1994 ) menyatakan bahwa self efficacy akan memengaruhi pilihan prilaku yang dilakukan,   berapa besar usaha yang dikeluarkan, serta ...

Sukses tentang Privilege?

Kata orang, kehidupan yang wahh, membuat seseorang bisa dapatkan apa yang dia mau. Katanya "dia mah gampang masuk sini, orangtuanya punya perekenomian tercukupi, punya banyak uang, apa apa pasti bisa. Gak perlu belajar pun, dengan uang pasti bisa, masa depan pasti terjamin".  Kalimat yang memang hanya fiktif belaka, bukan seluruh tapi sebagian orang mengatakan ini.  Ya, privilege kadang kala menjadi pembanding hidup orang dengan orang lain. Selalu merasa minder atau insecure? Privilege bukan untuk pembanding. Privilege bukanlah latar belakang dalam meraih sesuatu yang memang benar-benar kita inginkan, namun pupus begitu saja. Sejatinya orang dengan privilege dengan orang yang tidak memiliki privilege, itu 'sama saja'.  Yang mendasari kita untuk mencapai sebuah progres sampai pada tujuan ya diri kita. Privilege hanya untuk sebatas  peluang.   Setiap orang memiliki hak untuk memposisikan dirinya seperti apa, jadi apa, dan menempuh pendidikannya dimana darimanapun ...

Tentang Merdeka

Sudahkah Kita Merdeka ? Sudah tidak asing lagi dengan kata 'Merdeka' diseluruh pelosok negeri, pelosok dunia sudah sangat kental dengan namanya 'merdeka'. Tepat 2 hari sudah kita merayakan kemerdekaan , mengulang tahun kebebasannya negeri ini dari  keterjajahan bangsa penjajah dahulu. Dibumbui dengan kemeriahan, tak lupa kontribusi dari setiap para pemuda. Lantas dengan kata Merdeka, apakah sudah benar benar merdeka? Apakah diri kita sudah merdeka? Apakah diri kita sudah merdeka dari rasa keterjajahan hawa nafsu? Sering kali merdeka hanya sampai pada ucapan semata, namun tidak sesinkron dengan hati. Seringkali juga banyak korupsi, korupsi uang maupun korupsi waktu yang telah Allah beri. Selalu merasa kurang, dan tidak pandai bersyukur Menurut kacama Islam, merdeka adalah terbebas dari segala penghambatan dan hanya totalitas kepada Allah swt. Sebagaimana Islam datang untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penghambatan, memberantas kedzaliman serta menegakkan keadil...